Sabtu, 01 Agustus 2009

Wawancara

Wawancara merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan jalan mengadakan komunikasi dengan sumber data. Komunikasi tersebut dilakukan dengan dialog ( Tanya jawab ) secara lisan, baik langsung maupun tidak langsung ( I. Djumhur dan Muh. Surya, 1985 ).

Menurut Lexy J Moleong (1991) dijelaskan bahwa wawancara adalah percakapan dengan maksud-maksud tertentu. Pada metode ini peneliti dan responden berhadapan langsung (face to face) untuk mendapatkan informasi secara lesan dengan tujuan mendapatkan data yang dapat menjelaskan permasalahan penelitian. Sesuai dengan jenisnya, peneliti memakai jenis wawancara seperti yang dikatakan oleh Lexy J Moleong (2002) yaitu :

1. Wawancara berstruktur

2. Wawancara tidak berstruktur

3. Wawancara secara terang-terangan,

4. Wawancara dengan menempatkan informan sebagai sejawat.

Menurut Lexy J Moleong (2002) Teknik wawancara dalam penelitian pendekatan kualitatif dibagi menjadi tiga kategori yaitu :

1. Wawancara dengan cara melakukan pembicaraan informal (informal conversational interview),

2. Wawancara umum yang terarah (general interview guide approach),

3. Wawancara terbuka yang standar (standardized open-ended interview).

Keberhasilan dalam mendapatkan data atau informasi dari obyek yang diteliti sangat bergantung pada kemampuan peneliti dalam melakukan wawancara. Cara melakukan wawancara ialah mirip dengan kalau kita sedang melakukan pembicaraan dengan lawan bicara kita. Wawancara dimulai dengan mengemukakan topik yang umum untuk membantu peneliti memahami perspektif makna yang diwawancarai. Hal ini sesuai dengan asumsi dasar penelitian kualiatif, bahwa jawaban yang diberikan harus dapat membeberkan perespektif yang diteliti bukan sebaliknya, yaitu perseptif dari peneliti sendiri.

Keunggulan utama wawancara ialah memungkinkan peneliti mendapatkan jumlah data yang banyak; sebaliknya kelemahan ialah karena wawancara melibatkan aspek emosi, maka kerjasama yang baik antara pewawancara dan yang diwawancari sangat diperlukan. Dari sisi pewawancara, yang bersangkutan harus mampu membuat pertanyaan yang tidak menimbulkan jawaban yang panjang dan bertele-tele sehingga jawaban menjadi tidak terfokus. Sebaliknya dari sisi yang diwawancarai, yang bersangkutan dapat dengan enggan menjawab secara terbuka dan jujur apa yang ditanyakan oleh pewawancara atau bahkan dia tidak menyadari adanya pola hidup yang berulang yang dialaminya sehari-hari.

Yang diperlukan oleh pewawancara agar proses wawancaranya berhasil ialah kemauan mendengar dengan sabar, dapat melakukan interaksi dengan orang lain secara baik, dapat mengemas pertanyaan dengan baik, dan mampu mengelaborasi secara halus apa yang sedang ditanyakan jika dirasa yang diwawancari belum cukup memberikan informasi yang diharapkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar